Tahfidz & Al-Qur'an

Ziyadah & Murajaah

Dua jenis setoran ini terlihat sama di halaqoh — sama-sama santri maju membaca — tetapi artinya berbeda total bagi laporan. Salah menandai keduanya membuat capaian hafalan terbaca tidak jujur.

Terakhir diperbarui: 27 September 2026

Bedanya dalam satu kalimat

Jenis Maksudnya Contoh di halaqoh
ZiyadahMenambah hafalan baruSantri setor Juz 30 halaman berikutnya, surah 78 ayat 1-20 untuk pertama kalinya
MurajaahMengulang hafalan yang sudah pernah setorSantri menyimak ulang Juz 1 supaya tidak hilang

Ziyadah menghitung maju: ia menambah jumlah hafalan yang dikuasai. Murajaah menjaga di tempat: ia tidak menambah capaian, tetapi mencegah hafalan lama meluruh. Keduanya sama-sama wajib dicatat — yang tidak boleh adalah menukar labelnya.

Kenapa tidak boleh dicampur

  1. Saat menyimak, tegaskan jenis setorannya Pengampu bertanya atau mencatat dalam hati: ini ziyadah atau murajaah? Santri yang membaca juz yang belum pernah setorannya berarti sedang ziyadah; yang mengulang juz lama berarti murajaah.
  2. Pilih jenis yang tepat saat input Pada form setoran, pilihan ziyadah atau murajaah harus mengikuti kenyataan di halaqoh, bukan mengikuti keinginan agar laporan terlihat bagus.
  3. Pisahkan jatah harian keduanya Contoh ritme yang lazim: ziyadah setengah halaman baru, lalu murajaah satu sampai tiga halaman hafalan lama. Dengan jatah yang jelas, pengampu tidak perlu menebak-nebak jenis setoran saat mencatat.
Akibat kalau semua dicatat ziyadah

Laporan akan menyesatkan. Grafik capaian terlihat naik terus setiap minggu, juz terbaca cepat selesai, padahal sebagian besar setoran hanya pengulangan. Dampaknya sampai ke rapat wali santri dan pembagian rapor: capaian yang diumumkan tidak bisa dibuktikan saat ujian. Sebaliknya, kalau murajaah yang ditandai ziyadah, santri yang rajin mengulang justru terlihat tidak bertambah hafalan barunya.

Cara memeriksa apakah labelnya sudah benar

Bandingkan dengan juz yang sudah terbaca capaiannya. Kalau seorang santri tercatat ziyadah di Juz 1 padahal tiga bulan lalu ia sudah khataman Juz 1 lewat ujian, hampir pasti itu murajaah yang salah label. Pemeriksaan sederhana ini cukup dilakukan sebulan sekali per halaqoh.

Kalau ada yang macet

  1. Santri setor setengah juz lama setengah juz baru dalam satu giliran — catat sebagai dua setoran terpisah: satu ziyadah untuk bagian baru, satu murajaah untuk bagian lama.
  2. Pengampu lupa bertanya jenis setoran — kembalikan ke buku halaqah atau tanyakan langsung ke santri; jangan menebak saat input.
  3. Label terlanjur salah massal satu periode — perbaiki riwayat per santri pada bulan itu, lalu umumkan koreksi ke koordinator tahfidz agar rekap yang sudah beredar dianggap tidak berlaku.
  4. Murajaah terbaca sedikit sekali — biasanya bukan label yang salah, tetapi ritmenya: tambahkan jatah simakan murajaah harian, hafalan yang tidak pernah disimak lambat laun hilang.

Pertanyaan yang sering muncul

Manakah yang lebih penting, ziyadah atau murajaah?

Duanya menentukan. Ziyadah menambah capaian, murajaah menjaga agar capaian tidak hilang. Santri yang cepat ziyadahnya tetapi nol murajaah biasanya gugup saat diuji hafalan lama.

Setoran murajaah dihitung sebagai capaian juz tidak?

Tidak menaikkan capaian hafalan baru, tetapi tercatat di riwayat dan berpengaruh pada penilaian kelancaran serta predikat saat catatan hafalan tingkat dibuat.

Bagaimana dengan santri yang diulang karena bacaannya kurang lancar?

Ini tetap bagian dari ziyadah yang sedang berjalan — catat dengan tingkat kelancaran "mengulang" dan beri catatan letak kesalahannya, agar giliran berikutnya jelas bagian mana yang dikejar.

Apakah wali santri bisa membedakan keduanya di portal?

Bisa. Riwayat setoran di portal wali menampilkan jenis tiap setoran, sehingga wali paham bahwa anaknya sedang menambah hafalan atau sedang memperkokoh yang lama.

Masih ada yang perlu dibantu?

Sampaikan langsung ke tim kami. Kami bantu jelaskan sampai jelas — tanpa biaya, dan tanpa paksaan untuk langsung memakai sistem.

Tanya via WhatsApp